Pillow Talk
Sabtu kemaren di BBC, seperti biasa, ada film" klasik diputer dan biasanya aku juga udah sering nungguin film apa yang mau diputer. Kalo menurut TV Gids-nya Veronica sih bakal ada 'Love is a Many Splendored Things'; eh ternyata kenyataannya malah diputer 'Pillow Talk', salah satu film hasil partnership Rock Hudson-Doris Day yang katanya menginspirasi terbuatnya 'Down With Love'.
Satu hal yang aku kagetin dari film ini; the overall setting dan attitude dari karakter"nya tuh modern banget lho. Dan dialog"nya juga cukup menyegarkan dan terdengar modern untuk film dari taun 1960-an. Aktingnya Doris Day juga bukan hanya akting melodramatis tipikal film" lama, tapi akting yang bisa dilihat di film" sekarang.
Kembali ke dialog, banyak sekali witty repartee yang sampai sekarang bisa dilihat lagi di film" romantik komedi. Plot ceritanya juga cukup kreatif dan advanced untuk masanya. Ceritanya berawal dari seorang Jan Morrow (Day), seorang wanita karir single (!) yang bekerja sebagai interior decorator. Bayangkan! Dan dia mengaku tidak keberatan hidup sebagai seorang single. Jadi inget sama salah satu quote dari Helen Gurley Brown, pendirinya Cosmopolitan Magazine, beliau pernah bilang, di masanya beliau muda, kalau ada perempuan yang mengaku kalau dia single, it would mean bad for her, dan ketika dia mengakui kalo dia single and having sex (and enjoying it) she just needs to stick her head into an oven.
Jadi jelas banget kalo tokoh Jan ini cukup modern, independent, self-confident, and so ahead of her time. Dia tipe perempuan yang enggak sekedar menerima marriage proposal yang datang ke pintunya, dia enggak mau settle for anything less. Jadi ketika Jonathan, salah satu suitornya menciumnya untuk mengetes chemistry dan there is obviously none, Jonathan menghiburnya dengan 'well, you couldn't shoot the moon with the first missile' sementara Jan tetep mau mencari that kiss yang send her straight to the moon.
Jan, karena masalah telpon, harus berbagi line telpon parallel dengan tetangganya Brad Allen (Rock Hudson) yang selalu sibuk nelponin banyak perempuan". Jan, yang sering kerja dari rumah, ngerasa kesel karena dia enggak pernah bisa make line teleponnya. Dari sinilah Jan dan Brad bisa dapet kesempatan untuk tuker"an komentar" witty yang cukup punya sexual innuendo (dibungkus dengan cukup elegan tapi masih terdengar lucu and still sexy). Dari situlah Brad ngerasa penasaran dan pengen ketemu si Jan ini. Kebetulan, Jonathan adalah teman sekaligus atasan si Brad; tapi Jonathan terlalu aware akan reputasi Brad sebagai womanizer untuk bercerita semua tentang Jan. Secara kebetulan lagi, Brad akhirnya bisa bertemu dengan his other side of party line di satu pesta. Dari situlah dia memutuskan untuk done his whole southern innocent act (seperti tokoh Catcher Block di 'Down with Love') untuk mengambil hati Jan.
Kostum"nya Doris Day disini classy" banget; lokasi settingnya juga, pokoknya there's not a dull moment atau dialogue di filmnya. Pilihan acara date mereka juga classy dan bakal masih relevan kalo dipake sampe sekarang. Bener" romantic ideal date, tapi enggak terlalu cheesy atau keseringan dipake sampe jadi klise yang irritating.
Ada satu adegan dimana aku bisa ngerasa the sexual tension yang dibangun; adegan dimana Doris Day lagi berendam di bath tub penuh busa, terus dengan trik pemisah screen, di sisi lainnya ada Rock Hudson yang juga lagi berendam di bathtub penuh busa dan mereka lagi saling menelpon. And then they slide one of their feet along the screen separator as if their sliding it without the separator there. Wow!
Enggak tau kenapa, tapi adegan itu bener" give me the butterflies.
Ada adegan satu lagi yang lucu walopun tidak dimaksudin untuk jadi lucu, karena aku mbayangin dimasa itu kan Rock Hudson belum come out of the closet, tapi di film itu ada satu adegan dimana tokoh Brad Allen mengingatkan Doris Day tentang kemungkinan Rex Stetson itu gay, walopun enggak jelas" dibilang gitu. Ceritanya Rex, the innocent southern alter ego, selalu berperilaku kayak perfect gentleman dan enggak pernah taking advantage. Terus Brad mengingatkan ttg keberadaan those guys yang tipe" mama's boys, kerjaannya gossiping dan exchange recipes. Hmm… jadi mbayangin, apa Rock Hudson enggak ngerasa geli pas tau itulah gambaran orang" taun 1960-an tentang orang gay.
But overall, aku ngerasa kalo film ini pantas dianggap seimbang dan seklasik Breakfast at Tiffany's. Classy, smart, funny (walopun Pillow Talk lebih cocok sebagai film lucu dan Breakfast lebih mengarah ke drama), so advanced of their time, reeks of classy style…Aku bisa mbayangin kok kalo 'Sex and the City' itu enggak bakal ada tanpa 2 foundation stone ini. Tapi sekarang, aku masih ter-amazed" ama naskah witty dan the modern character, attitude, cerita, dan the sublime yet classy sexual tone. Pillow Talk, my favorite romantic comedy.

